Rabu, 18 September 2013

Bukan Permen Karet

Secara tiba-tiba, aku kepikiran pepatah Habis Manis Sepah Dibuang, lalu terus-menerus kepikiran. Awalnya aku menganggap pepatah ini keren. Maksudku, ini menggambarkan dengan sangat sempurna tentang betapa kurang-ajarnya seseorang yang hanya mau menikmati manisnya, lalu membuang setelah sepah. Tapi, setelah kupikir ulang, memang seharusnya begitu, bukan?

Aku membuang tebu yang sudah kukunyah dan kucecap manisnya. Aku membuang permen karet yang manisnya sudah hilang, ketika aku sudah lelah meniup-niup dan membuat balon-balonan. Aku membuang apapun yang tidak berguna, yang tidak kupakai dan yang tidak kusuka. Cuma orang bodoh yang tetap bertahan dengan rasa sepah, kupikir. Iya, kan? :3

Hanya saja, apa pepatah ini juga berlaku untuk sebuah hubungan? Mungkin, kebanyakan pasangan memang menganggap kegiatan ‘berpacaran’ sebagai sesuatu yang punya kadar manis terbatas dan suatu saat nanti bisa sepah. Lalu ketika satu sama lain ingin bilang ‘sudah’, ya sudah. Mereka pergi dan mencari yang manis-manis dengan orang lain.

Tapi, bukankah cinta harusnya tidak pernah sepah? :)

Aku bingung. :D

Barangkali aku terlalu tolol untuk memahami soal kadar manis dan sepahnya cinta. Aku tidak tahu kenapa orang-orang bercerai, atau putus, dan kenapa orang-orang tetap setia. Cinta bukan permen karet. Aku tidak berpikir bahwa orang yang putus adalah yang kehilangan rasa manis. Karena, aku juga tidak ingin berpikir bahwa orang yang tetap setia adalah yang sebenarnya hubungannya sudah sepah tapi ia tetap bertahan karena memang begitulah ia seharusnya. Cinta tidak begitu. Aku selalu percaya bahwa cinta tidak sepamrih itu.


Jadi, semoga saja memang begitu. :)

3 comments:

Anonim mengatakan...

apel tidak sepah.
sesepah-sepah yang terpelan mungkin.

@AngeLinuks mengatakan...

Sebab apel itu cinta. #apane

Aku asal saja pasang gambar apel, Om Anon :*

Anonim mengatakan...

sekarang kamu malas nulis ya?

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini