Sabtu, 04 Mei 2013

Child





Aku sering melihat bagaimana orang dewasa bersikap seperti anak-anak. Tapi, yang lebih sering kulihat, orang dewasa suka sekali marah-marah pada anak-anak. Menyebalkan, ya, orang dewasa itu? Mereka semaunya. Mentang-mentang sudah tua dan bisa mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan perut—yang adalah perutnya sendiri.

Kau tahu, aku mendambakan kehidupan di mana aku bisa mengatur sendiri hidupku. Melakukan ini dan itu seperti apa yang kuinginkan. Menolak ini dan itu seperti apa yang tidak kuinginkan. Mungkin semua orang juga sama. Semua orang punya hak untuk melakukan apapun yang mereka mau tanpa perlu disuruh-suruh, diatur-atur, atau dimarah-marahi oleh siapapun.

Aku menyadari ini ketika semalam aku berada di dapur dengan Gita. Aku termasuk yang jarang (sungkan, red) menyuruh orang lain jika aku bisa melakukannya sendiri. Tapi pada Gita aku tidak sungkan. Dia ‘kan lebih muda. Gampang dimarahi pula. Haha.

Semalam, aku sedang memotong kacang panjang ketika Gita datang dan ikut membantuku memotong-motong kacang panjang. Ketika kemudian kukatakan padanya, “Kamu ngupas bawang putih aja gih, Git.” Gita melirik tak suka lalu memberengut. Itu ekspresinya ketika sedang sebal. Ia memang sering berekspresi seperti itu. Tapi ketika ekspresi itu dikeluarkannya begitu aku memintanya melakukan sesuatu, artinya ia tak suka itu.

Mungkin, di mata Gita, aku sudah termasuk ke dalam jajaran orang dewasa menyebalkan yang suka semaunya.

Ngomong-ngomong, apa sih yang dipikirkan para tukang perintah di dunia ini ketika mereka memerintah orang lain, padahal mereka bisa melakukannya sendiri? Kadang, seseorang lupa sampai di batas mana mereka boleh mengatur, sampai mana mereka hanya boleh melihat, sampai mana mereka hanya boleh mengelus dada ketika orang lain berbuat apapun.

Kehidupan memang adalah perkara pengaturan terhadap diri sendiri, bukan?

0 comments:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini