Jumat, 10 Mei 2013

Salam; dari Jauh



Ibu, apa kabar? Aku sudah lama tidak mengukur seberapa besar rasa rinduku kepada Bapak, kepada Putra, kepada Ade, kepada kucing yang tidak pernah kuberi makan tapi selalu kuanggap kucingku, dan juga kepadamu. Aku lama sekali tidak telepon. Sekalinya sms pada Bapak, malah minta kiriman KTP. :’D

Apakah kalian sehat?

Aku mengerti bagaimana rasa yang pernah kausebut sebagai; ‘Tidak tahu apa yang sedang ditunggu.’ Kalau kau sudah merasakan itu sejak dulu; sejak apa yang kau percaya akan datang malah menjauh dan pelan-pelan pergi, aku merasakan hal yang sama baru-baru ini. Temanku bilang, apapun yang terjadi, yang paling penting adalah bagaimana agar kita merasa senang. Di sini senang. Di sana senang. Di mana-mana hatiku senang. Kata temanku yang lain, yang paling penting dilakukan adalah mensyukuri apapun yang sudah didapatkan. Kata temanku yang lain lagi, hidup itu harus realistis.

Padahal aku sudah realistis sejak lahir, kan, ya, Bu? :D

Bukankah, sejak kecil, aku sudah menguasai bagaimana cara mengelola berbagai macam keinginan? Bapak melatihku jadi seperti itu sejak dulu.

Ketika teman-temanku punya jas hujan yang mirip kemeja panjang dan ada celananya, Bapak membuatkanku jas jadi-jadian dari plastik transparan. Kata Bapak, itu juga bisa melindungiku dari hujan. Ketika hampir semua temanku berjuang memperebutkan kursi di universitas bagus, bahkan sampai ke luar kota, yang ternama dan terkenal kemana-mana, Bapak bilang aku tidak perlu kuliah. Katanya, anak perempuan di rumah saja. Toh nanti juga jadi istri. Istri tugasnya di rumah. Biar suami saja yang bekerja. Aku bersedih dan jatuh sakit selama tiga hari waktu itu. Lalu, entah bagaimana selanjutnya, Bapak akhirnya mengizinkan aku mendaftar kuliah. Padahal harusnya aku bisa masuk kampus dan jurusan yang lebih bagus kalau keputusan itu sudah dipersiapkan sejak aku masuk SMA, ya, Bu.

Berhubung kita keluarga yang realistis, ya seperti itulah. :’D

Aku bukannya sedang menyalahkan keadaan. Bukannya sedang mengeluh kenapa kita harus selalu realistis dan selamanya realistis. Aku bukannya sedang tidak senang. Aku bukannya sedang menangis dan meringkuk sambil merutuki ini dan itu. Bukan demikian. Aku, anakmu, tidak mungkin selemah itu, kan, Bu... :)

Aku hanya, entah kenapa, merasa begitu lelah. Segala hal jadi rumit ketika aku sedang lelah.

Ibu,

.................. apa hidup memang selalu semelelahkan ini? :’)

Tapi jangan khawatirkan apa-apa. Di luar hal-hal kecil yang sebetulnya tidak penting itu, segalanya berjalan dengan baik. Maksudku, mari kita anggap segalanya memang baik. Kau bisa percaya aku selalu menjaga semua hal yang kaupercayakan padaku, kan, Bu?

Salam untuk Bapak.

I Love You, and Love Daddy too. :)

0 comments:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini