Selasa, 16 April 2013

S(ib)uk.Ses



Aku pernah PKL di tempat yang—kalau dilihat dari jumlah orang yang bercita-cita ingin kerja di sana, sepertinya itu adalah tempat yang bagus. Gajinya tetap; kurang lebih dua juta setiap bulannya. Lalu, mereka memakai seragam rapi hingga senantiasa terlihat cantik dan tampan. Yang perempuan memakai rok span di atas lutut, rambut bercepol, bermake-up tebal dan memakai shadow-shadow-yang-maha-keren di kelopak matanya. Yang laki-laki berkemeja dan berdasi. Rambutnya basah. Tampan terus, terus tampan, sepanjang masa.

Kebetulan, salah seorang pegawai baru (yang outsourcing dan masih training) adalah kakak tingkatku di kampus. Satu jurusan tapi lain program studi. Orangnya cantiiiiik sekali. Mungil dan menggemaskan. Pertama kali mengobrol, ia menyenangkan. Gaya nyinyirnya juga, kupikir, tidak begitu menyebalkan. Kalimat yang kuingat terus sampai hari ini darinya, adalah seperti ini:

“Aku nggak suka sama Pak ****** itu. Musuh banget. Kalo aku sekarang main ke kampus terus ketemu Pak itu, pengen aku bilang; ‘Lihat nih, Pak, sekarang saya udah sukses!’ Gitu.”

Beberapa hari kemudian aku mulai sebal pada Mbak Cantik untuk banyak hal. Kata temanku, dia sok sekali. Aku tidak tahu banyak, tapi yang membuatku tidak suka, adalah karena setiap selesai makan siang, dia jadi satu-satunya orang yang tidak meletakkan piringnya sendiri ke wastafel. Dia juga senang memerintah. Aku sempat dengar ia dimarahi Ibu Pimpinan padahal Ibu itu baik sekali dan nyaris tidak pernah marah.

Beberapa hari setelah kedatangannya, Si Mbak Cantik dipindahkan ke luar kota. Hahahaha.
#dankenapatertawa =))

Aku bukan ingin bilang betapa menyebalkannya mbak itu, sebetulnya. Aku cuma ingin membahas kalimatnya soal ‘sekarang saya udah sukses!’. Kalau teringat lagi, aku suka merenung dan memikirkan kalimat itu lagi dan lagi. Mbak itu mengukur suksesnya dengan parameter apa? Bahwa ia sudah bekerja di tempat yang bergengsi, biarpun outsourcing? Bahwa ia sudah bisa makan dan tidak menaruh piringnya di wastafel? Bahwa ia bisa memerintah siapa saja sesuka hatinya?

Waktu PKL di tempat itu, aku masuk jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore. Aku tidak melakukan apa-apa tapi aku sering lelah karena yang kulakukan bukan hal yang menyenangkan. Aku sering terlambat masuk sekitar satu s/d dua puluh menit setiap harinya (#plak). Aku jarang melakukan apapun kecuali mengurusi berkas-berkas. Tapi, di siang hari aku sudah akan lapaaaaaar sekali. Dan pada jam sore aku akan sangat gembira menanti-nanti waktu pulang. Begitu setiap hari. Tidak capek-capek banget, bukan? Nyatanya aku capek.

Kabar wownya, yang kulakukan sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang dilakukan karyawan-karyawan aslinya. Mereka, yang bergaji rata-rata dua-tiga juta rupiah itu, sudah harus selalu standby di kantor pada pukul 7 pagi. Jam pulang mereka harusnya pukul 16.00, kalau tidak salah. Tapi setiap hari mereka lembur dan hampir selalu pulang pukul 8 malam. Kadang, beberapa karyawan teladan dengan sangat berbesar hati membawa pulang berkas-berkas yang tidak selesai, untuk dikerjakan di rumah. Coba bayangkan betapa mereka akan sangat teramat merasa lelah.

“Rasanya, kayak tidur sebentar tiba-tiba pagi lagi. Kerja lagi..” Begitu kata seorang Mas karyawan yang masih muda. Ia baru punya satu anak dan masih batita. :”)

Jadi, Mas itu hanya bertemu anaknya di malam hari. Iya kalau si anak belum tidur, kan. Juga, iya kalau si Mas itu belum capek dan tidak keburu tepar. Oh, ya, tambahan wow lagi, kalau Sabtu, kadang para karyawan harus masuk untuk lembur.

Aku tidak berani bertanya berapa uang lembur mereka. Mungkin banyak sekali, ya. .___.

Jadi ...

................................sudah sore, aku pulang dulu, ya. =="

0 comments:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini