Jumat, 06 Desember 2013

People Change, Memories Don't (?)

Kamu pernah lihat ibu-ibu cantik jelita? Aku pernah, tapi jarang. Kebanyakan ibu-ibu yang kukenal, yang pernah mengajakku mengobrol atau kuajak mengobrol, adalah ibu-ibu yang wajahnya punya banyak kerutan, yang tertawanya nyaring, yang suka bergosip, yang suka mengomel, dan gendut. Beberapa yang lain memang ada yang tetap langsing dan mulus dan imut-imut. Tapi kelak aku akan masuk ke bagian yang pertama, kukira. Kamu pasti juga sudah mengiranya. –,–

Kamu tahu, L, penyebab sebagian suami berselingkuh barangkali adalah karena istri mereka sudah membosankan, atau tidak menarik lagi. Aku pernah bertanya-tanya kenapa orang menikah yang sudah tidak saling cinta tidak bercerai saja. Kenapa mereka tetap memaksa mengikat satu sama lain dengan alasan klise seperti; ‘kasihan anak-anak’, atau ‘apa kata orang’, atau hal-hal sepele lainnya. Bukankah ‘karena aku tidak cinta lagi’ saja sudah cukup untuk jadi alasan berpisah? Seperti di cerpennya Dee yang judulnya Peluk. Kamu tentu sudah baca. Cerita tentang dua orang yang sudah enam tahun saling mencintai, lalu si perempuan tiba-tiba ingin pergi hanya karena ia merasa;

Aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. Kau tidak layak untuk itu. Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.

Puwah. Super, bukan?

Itu menunjukkan betapa manusiawinya manusia. Betapa cinta dan hati dan sayang dan segala yang pernah diagung-agungkan di awal ternyata selalu bisa berubah dan menjadi sepah. Bukan salah si tokoh ‘aku’ jika kemudian ia ingin melepaskan diri. Bukan salahnya juga jika ia kemudian merasa bahwa hati rupanya adalah air yang mengalir. Katanya;

... jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir.

Dan ia memang egois dan menyebalkan ketika berpikir;

Aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati.

Kemudian ia benar-benar pergi dan tak kembali.

Sampai di sini aku masih berpikir bahwa manusia memang mudah berubah. Hati juga. Cinta juga. Sayang juga. Segala sesuatu di muka bumi mudah berubah. Sama mudahnya dengan fisik atau ingatan atau kebiasaan atau yang lain-lainnya. Jika kamu merasa wajar saja jika seseorang pergi ketika pasangannya mendadak lupa ingatan, aku juga berpikir itu wajar. Semua kedatangan punya alasan; kepergian juga demikian. Tapi ada satu hal yang baru kupikirkan ulang. Bahwa alasan-alasan remeh itu terlalu brengsek untuk digunakan ketika seseorang ingin pergi dari pernikahan.

Orang pacaran bisa putus. Yang berteman bisa musuhan. Tapi menikah adalah perkara ‘menjadi keluarga’; hidup bersama, menangis, bercanda, memasak, mengobrol, memandang, mengejar, marah, belanja, tidur, bangun pagi, berteriak, menjaga, memberontak, menghujat, melakukan apapun. Dan seharusnya selalu begitu sampai pasangan itu tua—dan mati.

Kata Clara Ng; Keluarga adalah nomor satu. Bulat sempurna seperti bulan purnama.

Tapi seperti yang selalu kubilang; manusia mudah berubah. Perempuan bisa berubah jadi menyebalkan, dan keriput, dan berlemak (banyak), dan menopause, dan manja, dan sakit-sakitan, dan pikun, dan banyak lagi. Laki-laki juga demikian. Bedanya mereka tidak menopause. Bahkan sebetulnya, perselingkuhan juga adalah salah satu bentuk perubahan; dari setia menjadi tidak setia.

Jadi, L, aku punya teori spektakuler! \m/

Bahwa ‘menikah’ adalah bertekad sekuat tenaga untuk terus bersama menghadapi perubahan.

Ngg, tapi rupanya juga ada istilah ‘cerai’ di dunia ini, L. Sedih sekali kedengarannya memang. Tapi toh ada. Nyatanya, ada perubahan tertentu (barangkali terlalu berat dan menyakitkan) yang tidak sanggup dihadapi pasangan yang menikah. Makanya mereka bercerai. Jadi kalau berubah yang wajar-wajar saja ya, harusnya. xD




Jadi,
begitulah.



PS :
Aku sempat kepikiran menghapus blog ini. Kalau benar terjadi, apakah menurutmu Appa akan tetap tidak punya cakar? #apane

Minggu, 17 November 2013

Waktu Indi Sama Mika

Kamu pernah nonton film Mika? Belum juga nggak papa, sih. Filmnya biasa. Tapi, aku suka.

Vino bastian yang main jadi Mika. Dia kena AIDS. Ceweknya namanya Indi. Ceritanya si Indi ini kena skoliosis. Setiap hari dia harus pakai bracket kaku supaya tulang punggungnya bisa tegak. Nonton film ini membuatku ingat Hazel Grace dan Augustus Waters di The Fault in Our Stars. Di mana keduanya sama-sama punya penyakit, lalu saling bersatu untuk menghadapi dunia bersama-sama. Yang kusuka dari Indi, Mika, Hazel, dan Gus, adalah karena keempatnya sama-sama tidak cengeng dengan penyakit yang mereka punya. Bahwa hidup tidak melulu harus merutuki cobaan. Bahwa hidup harus tetap berjalan.

“Dia AIDS, Ndi, loe tahu kan itu apa?" Begitu tahu Indi dan Mika pacaran, salah seorang teman cowok Indi usil sekali memperingatkannya. Semua teman-teman Indi memang berpikir bahwa berpacaran dengan pengidap AIDS itu hal yang sangat tolol, dan bodoh, dan cari penyakit.

Lalu kata Indi; "Ya terus kenapa? Gue juga skoliosis, dan loe? Loe aneh."

Indi itu keren. Mika juga keren. Aku suka adegan ketika mereka saling mendekatkan wajah dan hampir berciuman, tapi Mika kemudian tertunduk dan minta maaf. Ia bilang, hal yang paling ia takutkan di dunia ini adalah menularkan AIDS pada Indi. Karena Indi bebal, ia mendebat; ‘Tapi aku cuma mau dicium sama kamu, sekali aja.’ Ketika Mika bilang gusinya bermasalah, dan sedang berdarah, Indi malah mengajak Mika ke dokter gigi saat itu juga untuk mengobati gusinya. Habuuuh. Aku terpana.

Nggg. Sebetulnya ini bukan review film. Aku bukan berniat membuat review film. :3

Jadi, ada bagian yang tidak kusuka di film ini. Ketika sakit Mika memburuk, lalu Indi jadi manja karena dia tidak mau Mika pergi. Dunia ini kan bukan melulu tentang Indi. Memangnya Indi siapa? Sepenting apa sampai ia harus melarang Mika mati hanya karena Indi tidak mau Mika mati? Itu egois. Bahkan di film pun orang-orang bisa jadi sangat egois. :’D

Begitulah.

Tapi Indi tetap keren, sih. Setidaknya dia mengajari aku bahwa jatuh cinta itu tidak boleh egois.

Rabu, 18 September 2013

Bukan Permen Karet

Secara tiba-tiba, aku kepikiran pepatah Habis Manis Sepah Dibuang, lalu terus-menerus kepikiran. Awalnya aku menganggap pepatah ini keren. Maksudku, ini menggambarkan dengan sangat sempurna tentang betapa kurang-ajarnya seseorang yang hanya mau menikmati manisnya, lalu membuang setelah sepah. Tapi, setelah kupikir ulang, memang seharusnya begitu, bukan?

Aku membuang tebu yang sudah kukunyah dan kucecap manisnya. Aku membuang permen karet yang manisnya sudah hilang, ketika aku sudah lelah meniup-niup dan membuat balon-balonan. Aku membuang apapun yang tidak berguna, yang tidak kupakai dan yang tidak kusuka. Cuma orang bodoh yang tetap bertahan dengan rasa sepah, kupikir. Iya, kan? :3

Hanya saja, apa pepatah ini juga berlaku untuk sebuah hubungan? Mungkin, kebanyakan pasangan memang menganggap kegiatan ‘berpacaran’ sebagai sesuatu yang punya kadar manis terbatas dan suatu saat nanti bisa sepah. Lalu ketika satu sama lain ingin bilang ‘sudah’, ya sudah. Mereka pergi dan mencari yang manis-manis dengan orang lain.

Tapi, bukankah cinta harusnya tidak pernah sepah? :)

Aku bingung. :D

Barangkali aku terlalu tolol untuk memahami soal kadar manis dan sepahnya cinta. Aku tidak tahu kenapa orang-orang bercerai, atau putus, dan kenapa orang-orang tetap setia. Cinta bukan permen karet. Aku tidak berpikir bahwa orang yang putus adalah yang kehilangan rasa manis. Karena, aku juga tidak ingin berpikir bahwa orang yang tetap setia adalah yang sebenarnya hubungannya sudah sepah tapi ia tetap bertahan karena memang begitulah ia seharusnya. Cinta tidak begitu. Aku selalu percaya bahwa cinta tidak sepamrih itu.


Jadi, semoga saja memang begitu. :)

Kamis, 22 Agustus 2013

Sar(j)ana


Huh. Aku patah hati. Dunia jadi menyebalkan sekali hari ini. :’D

Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa ia malu dikenal masyarakat sebagai mahasiswa. Aku lupa apakah waktu itu aku bertanya kenapa. Tapi, sepertinya, ia malu karena statusnya yang mahasiswa itu hanya terdengar keren saja, tapi tidak pada kenyataannya. Karena, mahasiswa apa sih kerjanya? Apa sih kontribusinya? Apa sih fungsi eksistensinya di dunia fana, untuk bangsa dan negara, untuk kota, bahkan untuk kampung halamannya? Berapa gelintir yang bisa berguna? Tidakkah kebanyakan mereka lebih pandai haha-hihi saja dari timur ke utara? Lihat. Aku emosi. Aku menyedihkan. Aku sedih karena aku, kemarin, juga tipikal mahasiswa yang seperti itu. Aku tidak berguna.

Sedih, ya. ;D

Yang lebih sedih lagi adalah, ketika kamu sudah susah payah meloloskan diri dari berbagai rintangan akademik yang memuakkan, lalu kamu berhasil wisuda, ternyata kamu tetap belum bisa jadi berguna.

Tapi, di luar sana, ribuan orang masih mengira bahwa para sarjana lebih intelektual daripada yang bukan. Bahwa yang lulus S2 lebih punya harga daripada yang S1. Apalagi D3, seperti aku, dimasukkan kualifikasi untuk bisa apply lamaran kerja (di tempat yang sebetulnya kuimpi-impikan sejak lama) saja tidak. :D

Padahal, ketika aku mendengar dari bapak bahwa Putra tidak ingin kuliah setelah lulus SMK, aku merasa bangga. Kupikir, itu bagus. Meskipun mungkin kalau Bapak mampu ia tetap akan dikuliahkan, tapi sikap dan pandangan bahwa ‘tidak kuliah tidak masalah’ itu adalah satu-satunya hal paling keren yang pernah kutemukan di diri Putra. Itu amazing. Mengingat betapa manja dan menyebalkannya ia. Ia, kukira berpikiran bahwa lulus SMK saja sudah cukup. Ia sudah punya kemampuan dan sudah bisa mengembangkannya sendiri biarpun tidak pakai ijazah kuliah. Iya. Mengaku saja, kebanyakan mahasiswa kuliah memang cuma cari ijazah, kan?

Lalu mereka mengaku intelektual. Mengaku pintar. Mengaku tinggi dan merasa terhina jika direndah-rendahkan.

Aku mengomel. Maaf. Sudah lama aku tidak mengomel. Habisnya aku sedang sedih. T----T

Sudah, ah. Jika ada bagian dari tulisanku yang terkesan tidak baik, semoga aku hanya berburuk sangka. :’)

Senin, 17 Juni 2013

Why Don't You Have Wings to Fly With?*


Aku mengobrol absurd dengan seseorang tadi pagi. Ia duduk di dekatku, satu bangku di sebelah kiri. Kami sedang antri di depan loket teller BRI. Aku jarang menyapa orang asing. Tapi bapak itu, yang berkacamata, berkumis, dan punya rambut sepanjang Harry Potter ketika kelas satu itu, tiba-tiba bilang;

“Berat...”

“Kenapa, Pak?” tanyaku.

“Berat, hidup.”

Lalu kami sama-sama tertawa kecil.

“Mau nabung ya, Pak?”

“Iya, nih. Begini terus. Nabung, diambil, nabung diambil. Sampe udah ganti buku.”

Aku berhehe-hihi saja. Berusaha terlihat sopan karena ia bapak-bapak.

“Gimana lagi ya, dijalani aja, namanya hidup.”

Aku tersenyum, mengatakan ‘iya’ samar, dan hanya mengangguk-angguk. Tadi sudah kubilang aku jarang bicara dengan orang asing, bukan? Jadi aku tidak bicara apa-apa lagi sampai nomor antrianku dipanggil. Setelah menabungkan beberapa rupiah, ke rekening yang bukan milikku, aku pamit pada si bapak, kemudian pergi.

Di luar, mas tukang parkir sedang berdiri. Aku segera memberinya seribu. Sebetulnya, aku tidak merasa perlu dibantu menarik motor dari belakang. Tapi mas tukang parkir menarik besi belakang motorku sementara aku sudah naik. Itu memang selalu dilakukannya karena itu sudah tugasnya. Mungkin, sesekali ia juga akan mengeluh bahwa hidupnya berat.

Memang ada banyak orang yang harus membuang risaunya dengan mengeluh. Aku juga, meskipun sering berusaha supaya tidak mengeluh toh juga akan tetap sering mengeluh.

Haha. :’)


Ngomong-ngomong, hampir ramadhan. Bapak dan Ibuk apa kabar, ya?





*Judul diambil dari lirik lagu Donna-Donna

Jumat, 10 Mei 2013

Salam; dari Jauh



Ibu, apa kabar? Aku sudah lama tidak mengukur seberapa besar rasa rinduku kepada Bapak, kepada Putra, kepada Ade, kepada kucing yang tidak pernah kuberi makan tapi selalu kuanggap kucingku, dan juga kepadamu. Aku lama sekali tidak telepon. Sekalinya sms pada Bapak, malah minta kiriman KTP. :’D

Apakah kalian sehat?

Aku mengerti bagaimana rasa yang pernah kausebut sebagai; ‘Tidak tahu apa yang sedang ditunggu.’ Kalau kau sudah merasakan itu sejak dulu; sejak apa yang kau percaya akan datang malah menjauh dan pelan-pelan pergi, aku merasakan hal yang sama baru-baru ini. Temanku bilang, apapun yang terjadi, yang paling penting adalah bagaimana agar kita merasa senang. Di sini senang. Di sana senang. Di mana-mana hatiku senang. Kata temanku yang lain, yang paling penting dilakukan adalah mensyukuri apapun yang sudah didapatkan. Kata temanku yang lain lagi, hidup itu harus realistis.

Padahal aku sudah realistis sejak lahir, kan, ya, Bu? :D

Bukankah, sejak kecil, aku sudah menguasai bagaimana cara mengelola berbagai macam keinginan? Bapak melatihku jadi seperti itu sejak dulu.

Ketika teman-temanku punya jas hujan yang mirip kemeja panjang dan ada celananya, Bapak membuatkanku jas jadi-jadian dari plastik transparan. Kata Bapak, itu juga bisa melindungiku dari hujan. Ketika hampir semua temanku berjuang memperebutkan kursi di universitas bagus, bahkan sampai ke luar kota, yang ternama dan terkenal kemana-mana, Bapak bilang aku tidak perlu kuliah. Katanya, anak perempuan di rumah saja. Toh nanti juga jadi istri. Istri tugasnya di rumah. Biar suami saja yang bekerja. Aku bersedih dan jatuh sakit selama tiga hari waktu itu. Lalu, entah bagaimana selanjutnya, Bapak akhirnya mengizinkan aku mendaftar kuliah. Padahal harusnya aku bisa masuk kampus dan jurusan yang lebih bagus kalau keputusan itu sudah dipersiapkan sejak aku masuk SMA, ya, Bu.

Berhubung kita keluarga yang realistis, ya seperti itulah. :’D

Aku bukannya sedang menyalahkan keadaan. Bukannya sedang mengeluh kenapa kita harus selalu realistis dan selamanya realistis. Aku bukannya sedang tidak senang. Aku bukannya sedang menangis dan meringkuk sambil merutuki ini dan itu. Bukan demikian. Aku, anakmu, tidak mungkin selemah itu, kan, Bu... :)

Aku hanya, entah kenapa, merasa begitu lelah. Segala hal jadi rumit ketika aku sedang lelah.

Ibu,

.................. apa hidup memang selalu semelelahkan ini? :’)

Tapi jangan khawatirkan apa-apa. Di luar hal-hal kecil yang sebetulnya tidak penting itu, segalanya berjalan dengan baik. Maksudku, mari kita anggap segalanya memang baik. Kau bisa percaya aku selalu menjaga semua hal yang kaupercayakan padaku, kan, Bu?

Salam untuk Bapak.

I Love You, and Love Daddy too. :)

Senin, 06 Mei 2013

Segelas Air Putih



Sejak kecil aku sudah suka berkhayal. Aku membayangkan bagaimana jika aku bisa terbang. Juga, bagaimana jika tubuhku bisa menyusut dan masuk ke dalam mobil-mobilan kecil lalu mobil itu bisa kusetir dan aku bisa berkeliling kemanapun yang kuinginkan (ngng, ketika kecil, mainanku bukan boneka, memang, tapi banyak yang mobil-mobilan. -__- Mungkin karena boneka harganya mahal. Kalau mobil ‘kan ada yang dari plastik. :D). Aku pernah membayangkan bahwa jika aku menutup kepalaku dengan ember, lalu membaca mantra-mantra, ketika embernya kulepas aku akan jadi invisible yang tidak terlihat orang-orang.

Kebiasaan mengkhayal itu pasti terbawa sampai sekarang. Kadang, itu membuatku sedih berlebihan. Sedih, karena, tidak semua hal yang kubayangkan bisa kuwujudkan, entah dengan cara mudah atau upaya yang sudah sangat susah payah.

Aku menemukan quote sialan dari cerpen Dee (yang bahkan padahal belum kubaca bukunya). Katanya begini:

"...dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku... dan segelas air putih."

Setelah googling dan menemukan cerpen utuhnya, yang judulnya Curhat untuk Sahabat, aku terenyuh. Dadaku berdesir. Aku ingin menangis, dan aku tahu kenapa ingin menangis. Kenapa Dee harus sering begitu, sih? Maksudku, kenapa Dee selalu membuat tokoh perempuannya menyerah, dan berhenti menyayangi siapapun yang disukainya, lalu Dee membuat si tokoh menyadari bahwa yang harusnya ia lakukan adalah memilih laki-laki lain yang menyanginya saja.

Aku sedih. Hahaha. Aku sedih tapi tak mengapa. Aku tahu apa sebabnya, aku tahu bagaimana mengatasinya. :’)

Sabtu, 04 Mei 2013

Child





Aku sering melihat bagaimana orang dewasa bersikap seperti anak-anak. Tapi, yang lebih sering kulihat, orang dewasa suka sekali marah-marah pada anak-anak. Menyebalkan, ya, orang dewasa itu? Mereka semaunya. Mentang-mentang sudah tua dan bisa mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan perut—yang adalah perutnya sendiri.

Kau tahu, aku mendambakan kehidupan di mana aku bisa mengatur sendiri hidupku. Melakukan ini dan itu seperti apa yang kuinginkan. Menolak ini dan itu seperti apa yang tidak kuinginkan. Mungkin semua orang juga sama. Semua orang punya hak untuk melakukan apapun yang mereka mau tanpa perlu disuruh-suruh, diatur-atur, atau dimarah-marahi oleh siapapun.

Aku menyadari ini ketika semalam aku berada di dapur dengan Gita. Aku termasuk yang jarang (sungkan, red) menyuruh orang lain jika aku bisa melakukannya sendiri. Tapi pada Gita aku tidak sungkan. Dia ‘kan lebih muda. Gampang dimarahi pula. Haha.

Semalam, aku sedang memotong kacang panjang ketika Gita datang dan ikut membantuku memotong-motong kacang panjang. Ketika kemudian kukatakan padanya, “Kamu ngupas bawang putih aja gih, Git.” Gita melirik tak suka lalu memberengut. Itu ekspresinya ketika sedang sebal. Ia memang sering berekspresi seperti itu. Tapi ketika ekspresi itu dikeluarkannya begitu aku memintanya melakukan sesuatu, artinya ia tak suka itu.

Mungkin, di mata Gita, aku sudah termasuk ke dalam jajaran orang dewasa menyebalkan yang suka semaunya.

Ngomong-ngomong, apa sih yang dipikirkan para tukang perintah di dunia ini ketika mereka memerintah orang lain, padahal mereka bisa melakukannya sendiri? Kadang, seseorang lupa sampai di batas mana mereka boleh mengatur, sampai mana mereka hanya boleh melihat, sampai mana mereka hanya boleh mengelus dada ketika orang lain berbuat apapun.

Kehidupan memang adalah perkara pengaturan terhadap diri sendiri, bukan?

Selasa, 16 April 2013

S(ib)uk.Ses



Aku pernah PKL di tempat yang—kalau dilihat dari jumlah orang yang bercita-cita ingin kerja di sana, sepertinya itu adalah tempat yang bagus. Gajinya tetap; kurang lebih dua juta setiap bulannya. Lalu, mereka memakai seragam rapi hingga senantiasa terlihat cantik dan tampan. Yang perempuan memakai rok span di atas lutut, rambut bercepol, bermake-up tebal dan memakai shadow-shadow-yang-maha-keren di kelopak matanya. Yang laki-laki berkemeja dan berdasi. Rambutnya basah. Tampan terus, terus tampan, sepanjang masa.

Kebetulan, salah seorang pegawai baru (yang outsourcing dan masih training) adalah kakak tingkatku di kampus. Satu jurusan tapi lain program studi. Orangnya cantiiiiik sekali. Mungil dan menggemaskan. Pertama kali mengobrol, ia menyenangkan. Gaya nyinyirnya juga, kupikir, tidak begitu menyebalkan. Kalimat yang kuingat terus sampai hari ini darinya, adalah seperti ini:

“Aku nggak suka sama Pak ****** itu. Musuh banget. Kalo aku sekarang main ke kampus terus ketemu Pak itu, pengen aku bilang; ‘Lihat nih, Pak, sekarang saya udah sukses!’ Gitu.”

Beberapa hari kemudian aku mulai sebal pada Mbak Cantik untuk banyak hal. Kata temanku, dia sok sekali. Aku tidak tahu banyak, tapi yang membuatku tidak suka, adalah karena setiap selesai makan siang, dia jadi satu-satunya orang yang tidak meletakkan piringnya sendiri ke wastafel. Dia juga senang memerintah. Aku sempat dengar ia dimarahi Ibu Pimpinan padahal Ibu itu baik sekali dan nyaris tidak pernah marah.

Beberapa hari setelah kedatangannya, Si Mbak Cantik dipindahkan ke luar kota. Hahahaha.
#dankenapatertawa =))

Aku bukan ingin bilang betapa menyebalkannya mbak itu, sebetulnya. Aku cuma ingin membahas kalimatnya soal ‘sekarang saya udah sukses!’. Kalau teringat lagi, aku suka merenung dan memikirkan kalimat itu lagi dan lagi. Mbak itu mengukur suksesnya dengan parameter apa? Bahwa ia sudah bekerja di tempat yang bergengsi, biarpun outsourcing? Bahwa ia sudah bisa makan dan tidak menaruh piringnya di wastafel? Bahwa ia bisa memerintah siapa saja sesuka hatinya?

Waktu PKL di tempat itu, aku masuk jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore. Aku tidak melakukan apa-apa tapi aku sering lelah karena yang kulakukan bukan hal yang menyenangkan. Aku sering terlambat masuk sekitar satu s/d dua puluh menit setiap harinya (#plak). Aku jarang melakukan apapun kecuali mengurusi berkas-berkas. Tapi, di siang hari aku sudah akan lapaaaaaar sekali. Dan pada jam sore aku akan sangat gembira menanti-nanti waktu pulang. Begitu setiap hari. Tidak capek-capek banget, bukan? Nyatanya aku capek.

Kabar wownya, yang kulakukan sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang dilakukan karyawan-karyawan aslinya. Mereka, yang bergaji rata-rata dua-tiga juta rupiah itu, sudah harus selalu standby di kantor pada pukul 7 pagi. Jam pulang mereka harusnya pukul 16.00, kalau tidak salah. Tapi setiap hari mereka lembur dan hampir selalu pulang pukul 8 malam. Kadang, beberapa karyawan teladan dengan sangat berbesar hati membawa pulang berkas-berkas yang tidak selesai, untuk dikerjakan di rumah. Coba bayangkan betapa mereka akan sangat teramat merasa lelah.

“Rasanya, kayak tidur sebentar tiba-tiba pagi lagi. Kerja lagi..” Begitu kata seorang Mas karyawan yang masih muda. Ia baru punya satu anak dan masih batita. :”)

Jadi, Mas itu hanya bertemu anaknya di malam hari. Iya kalau si anak belum tidur, kan. Juga, iya kalau si Mas itu belum capek dan tidak keburu tepar. Oh, ya, tambahan wow lagi, kalau Sabtu, kadang para karyawan harus masuk untuk lembur.

Aku tidak berani bertanya berapa uang lembur mereka. Mungkin banyak sekali, ya. .___.

Jadi ...

................................sudah sore, aku pulang dulu, ya. =="

Rabu, 10 April 2013

Ar(u/i)ng



Cerpen Ninuk Anggasari

Aku cuma tidak punya cara lain untuk mengawetkan kamu dalam kenangan. Maka hari ini, kubilang padamu kita tak bisa pulang bersama padahal aku menguntitmu diam-diam. Nekat dan konyol, aku mencoba merekam. Membuat film dokumenter tentang kamu, Arung Rahmawan. Sepertinya ini akan jadi satu-satunya kegiatan paling berkesan. Iya, kan?
“Arung!” Seseorang memanggilmu. Itu Gis. Temanmu di ekskul pecinta alam. “Mau pulang, ya? Kamu sendirian? Mana Karin?”
Aku mengarahkan handycam dari celah batang sebuah pohon yang tak terlalu jauh. Tidak bisa merekam wajahmu karena kamu berdiri membelakangiku.
“Iya nih sendirian. Ada apa, Gis?” ujarmu ramah, seperti biasa.
“Sebentar, ya.” Gis memencet-mencet ponsel dan bicara singkat dengan seseorang. Singkat sekali. Kemudian dia menutup ponsel dan kembali bicara denganmu. “Kamu ingat nggak, aku pernah bilang ada anak baru yang ingin kenalan sama kamu? Dia satu kosan denganku. Tungguin sebentar, pliiis, dia sedang kemari. Mumpung lagi nggak ada Karin. Hihi.”
Wow! Aku bisa mendengar hantaman keras pada sisi kiri hati kecilku. Handycamku tetap menyorotmu ketika kemudian aku melihat kedatangan gadis itu. Postur semampai dengan lekuk-lekuk memukau. Poninya miring, dan ketika bibirnya tersungging ada lesung di kedua pipinya. Manis sekali. Dia datang dari arah kiri, memasuki sorotan kamera ketika bergabung dengan kamu dan Gis. Lalu dengan malu-malu, dia mengulurkan tangan kanan. Menjabatmu.
“Kikan,” ujarnya pelan. Pelan sekali. Jika saja aku berdiri di balik satu pohon lebih jauh, suaranya pasti tak terdengar.
Kulihat tanganmu bergerak menyambutnya, menggenggam tangannya, barangkali dengan senyum ramah yang hangatnya luar biasa. Kutebak dada gadis itu berdesir lembut ketika kedua telapak tangan kalian bersentuhan. Pipinya yang mulus itu pasti sedang memanas. Terbukti, karena setelah jabat manis itu, kulihat dia tertunduk malu.
“Kok berani minta kenalan? Jarang lho ada cewek yang kayak kamu,” ujarmu, serius tapi bersahabat.
Dia cuma tersenyum, tersipu.
“Eh, nggak tukeran nomer hape, nih?” Gis menjadi penengah.
“Oh iya, mau kamu catat?” Kamu bicara penuh percaya diri. “Kosong delapan lima,”
Kikan, setelah menggaruk kikuk dahinya, terburu-buru mengeluarkan ponsel untuk mencatat nomor yang kamu diktekan. Lihat gadis itu. Polos sekali, ya? Kalau aku jadi kamu, aku akan langsung menjadikannya nominasi cewek terbaik untuk menjadi teman kencan di malam Minggu. Dan sepertinya aku jadi tahu kenapa selama ini kamu tak pernah menyukaiku.
“Oke, salam kenal, Kikan. Maaf ya, aku pergi dulu. Lagi agak repot, nih.”
Aku tidak benar-benar melihat, tapi kamu mungkin tersenyum sekilas. Lalu setelah berpamitan, kamu hadap kanan dan berjalan pelan.
Kuarahkan kamera pada Kikan dan Gis. Gis meloncat-loncat norak sambil mengguncang-guncang bahu Kikan. Sementara Kikan tetap tertunduk. Kuperbesar tampilan gambar pada handycam supaya terfokus pada ekspresinya. Merona? Oh tidak, gadis ini benar-benar jatuh cinta.
*
Film dokumenter spektakuler hasil rekamanku sudah jadi. Ternyata isinya tidak hanya tentang kamu. Aku mencampurnya dengan beberapa video Kikan, juga rekaman isi hatiku sendiri. Selama tiga minggu hampir penuh aku mengedit dan memberi berbagai efek supaya film buatanku jadi seperti sungguhan.
Pagi ini, seperti tujuh hari yang telah berlalu sebelumnya, tidak ada yang tahu aku di sini. Bosan dan tidak ada kerjaan, kunyalakan laptop jingga milikku. Lalu aku menonton film itu lagi.
“Halo, namaku Arung Rahmawan. Laki-laki ganteng, pecinta alam,” ujar gambarmu di layar laptop.
Aku tersenyum dengan kepala miring. Aku paling suka adegan ini. Satu-satunya adegan yang kuambil secara terang-terangan. Ketika itu kupaksa kamu memberikan salam perkenalan ala peserta-peserta fake reality show.
“Terus?” Suaraku terdengar.
“Terus apa?”
“Lanjutin ngomongnya!”
“Aku—“ kamu menatap kamera, lama. “Ah, ngomong apa lagi dong?”
“Ahahahah, tampang kamu, ya ampun.”
“Udah Ring, matiin! Matiin!”
“Tanggung, lagi bagus nih.”
“Ring?! Matiin kubilang! Ring!”
Gambar bergerak-gerak. Terdengar langkah kakiku yang berlarian sambil terkikik. Layar berguncang-guncang tidak stabil. Ketika itu kamu mengejarku keliling kelas. Setengah marah dan memohon supaya rekaman bodohmu dihapus. Masih terbahak, aku terus saja berlari. Menyelamatkan diri dan menyelamatkan gambar ini.
“HAHAHA.” Suara tawaku yang terakhir.
Kemudian adegan berganti.
Aku masih tersenyum sendiri ketika tiba-tiba ponselku berdering. Mataku membelalak. Sedikit, ah tidak, aku sangat terkejut membaca namamu.
Arungnya Aringcalling?
“Ha—”
“Halo! Kenapa dari kemarin hape kamu nggak aktif?”
Aku tercekat. Sebetulnya ponselku sudah tidak aktif sejak seminggu yang lalu. Tapi aku sama sekali tidak berharap kamu akan mencariku. Bukankah sejak dulu memang seperti itu aku di matamu? Tidak penting, bukan?
“Kamu di mana, Ring?! Menghilang ke Jogja lagi? Dasar anak nakal! Kamu belum ajarin aku mengedit foto, kan? Padahal lagi butuh banget ini!” Kamu bicara panjang lebar.
Aku tergelak, berusaha kuat menahan supaya mataku yang berkaca-kaca tidak menjatuhkan air mata. “Kamu mencariku cuma untuk ngajarin edit foto?”
“Apa?”
“Oh, nggak papa. Hahaha.” Air mataku menetes sungguhan tapi kamu tidak boleh tahu. “Aku lagi di Jepang. Jangan ganggu, ya. Lagi jalan-jalan di Menara Eiffel, nih.”
“Nah, kan. Eiffel sejak kapan pindah ke Jepang? Kumat nih anak.”
Klik.
Aku menangis. Kupandangi lagi layar laptop yang memburam akibat penglihatanku terhalang air mata. Meskipun samar, aku hafal bahwa film sedang menampilkan adegan ketika kamu dan Kikan sedang makan siang berdua. Hatiku perih.
*
Kamu lebih suka memanggilku Aring, padahal nama asliku Karin. Tapi tak apa, aku suka dipanggil apa saja. Karena yang paling penting adalah fakta bahwa aku ada, biarpun sedikit, di duniamu.
“Karin, makan buburnya dulu yuk, Sayang.” Ini sudah kali ketiga dalam sehari mama menyodoriku makanan.
Aku tidak mau makan. Bukannya manja, tapi tidak selera. Menu makanan yang disuguhkan tempat ini tidak enak. Hanya bubur tawar, dan sesekali telur rebus. Aku lebih suka disuntik dengan jarum tajam ketimbang harus susah payah menelan makanan. Terlebih lagi aku bosan. Jenuh. Tempat berbau obat-obatan ini tidak pernah membuatku betah.
“Kamu kangen sekolah, ya?” Mama mengelus rambutku dengan tatapan sendu. “Semalam Arung ke rumah, dia tanya kamu di mana, pasti dia juga kangen kamu.”
“Sama Kikan ya, Ma?”
“Siapa Kikan?”
“Ah, itu, ceweknya Arung.”
“Arung punya pacar sekarang? Wah, kemajuan, ya. Bukannya kamu bilang dia cuek sama perempuan?”
“Hehe, nggak segitunya lah, Ma. Karin rasa setiap cowok juga butuh pacar.”
Mama terkikik. “Mama baru tahu kalau pacar itu kebutuhan.”
Aku tercenung. Teringat bahwa selama ini aku tidak pernah butuh pacar. Karena menyukaimu, mendoakanmu, mengingatmu sepanjang waktu, adalah jauh lebih indah daripada punya pacar. Apalagi, kamu juga tidak pernah punya pacar.
Tentu saja Kikan adalah pengecualian.
Kikan adalah satu-satunya gadis pemberani yang mau berbesar hati mendekati kamu lebih dulu. Aku punya beberapa rekaman kisah kasih kalian. Sejak perkenalan, pendekatan, sampai suatu pagi yang basah itu. Ketika aku melihat Kikan menggelayut di bahumu pada gerimis yang begitu semu. Esoknya, kudengar kamu dan Kikan jadian.
“Kok melamun?” Mama mengelus rambutku lagi.
Lama. Dipandanginya aku dengan penuh perhatian. Aku tahu apa yang mama pikirkan, tetapi aku berusaha memberinya senyuman. Kemudian mama merengkuhku. Mendekapku erat sekali. Kudengar isakan tertahan saat beliau berbisik.
“Karin anak Mama satu-satunya ....”
Hangat, aku membalas pelukan mama. Tapi aku tidak menangis. Bahkan ketika tahu-tahu aku merasakan dadaku luar biasa sakit. Aku mempererat pelukanku kepada mama. Kurasakan hidungku menghangat oleh darah segar.
“Karin sayang Mama ....”
Kemudian pandanganku mengabur.
*
Rumah Sakit!
Halo, namaku Arung Rahmawan. Laki-laki ganteng, Pecinta Alam.
Arung berlari, terburu-buru menapaki lorong rumah sakit. Penampilannya acak-acakan dengan peluh yang membasahi pelipis dan sebagian rambutnya. Mama Karin meneleponnya, memberitahu bahwa Karin sedang kritis dan mengalami koma.
Dasar bebal!
Arung mengutuk Karin yang sejak awal tidak pernah bilang bahwa dia sedang sakit. Selama seminggu ini Arung bahkan berfikir gadis itu sedang bersenang-senang entah di kota mana. Seperti yang biasa Karin lakukan setiap kali menghilang. Pergi belanja, ke pantai, ke hutan. Ke tempat jauh yang tidak pernah bisa Arung temukan!
“Rung, kalo kamu kehilangan aku, rasanya gimana?” Karin pernah bertanya.
Waktu itu Karin sedang membantu Arung mencari kunci motornya yang terselip entah dimana. Arung memang mudah sekali lupa, mudah kehilangan barang apapun yang dia punya.
“Ha? Yaaa, ngng ... biasa aja.” Arung mengamati tanah berumput, barangkali kunci motornya terjatuh disana.
“Oh, ya? Kalo aku mati muda terus jadi hantu penasaran?”
“Orang seusil kamu nggak mungkin mati muda, dan kalaupun jadi hantu juga nggak akan penasaran.”
“Kenapa nggak mungkin mati muda?”
“Karena orang yang mati muda itu cuma orang baik.”
“Oh, ya?”
“Oh, ya! Ketemu!” Dia mengacungkan kunci motor yang terselip di sela-sela rerumputan hijau. Pasti tidak sengaja terjatuh ketika tadi dia terburu-buru memasukkannya ke dalam tas.
Arung tiba di ruang ICU. Jantungnya berdegup ketika menemukan sosok sahabat baiknya terbaring lemah dengan slang infus dimana-mana. Perlahan, digenggamnya pergelangan tangan Karin yang tidak disemati slang.
“Halo, Ring,” panggilnya lirih. “Masih tidur, ya?”
*
Barangkali Arung selalu ngotot memanggil gadis itu Aring supaya nama keduanya terdengar serasi. Suatu hari, Arung pernah tanpa sengaja mengukir kata Ar(u/i)ng di sebuah kertas. Ketika Karin melihatnya, gadis itu terperangah sekaligus terlihat begitu senang dalam waktu yang sama.
“Ih, romantis banget ya gabungan nama kita,” desaunya.
Waktu itu Arung hanya tertawa. Sama sekali tak menyangka bahwa berbulan-bulan setelah kejadian itu, dia akan melihat kertas bertuliskan Ar(u/i)ng itu tertempel di sebuah benda yang diserahkan Kikan kepadanya.
“Aku nemu ini, di meja kecil dekat ranjangnya Karin waktu tadi mau naruh buah,” kata Kikan. “Punya kamu atau punya Aring, ya?”
Arung mengernyit memandangi benda itu. Sebuah kotak berisi sekeping CD.
“Punya Aring. Tapi aku ingin lihat apa isinya.”
*
Sore sedang mendung ketika Arung datang dan membawakan Aring bunga. Dia berlutut, dan tersenyum manis dengan mata berkilat yang berusaha ceria.
“Mendungnya tebal sekali, Ring. Sepertinya bakal hujan.” Arung menengadah.
Langit mungkin sedang sendu, atau sedang tak kuasa membendung rindu. Dan meski sudah berusaha keras, Arung tak bisa menahan diri untuk tak merasa pilu. Ketika perlahan-lahan rintik hujan turun dan membasahi pakaiannya, kedua bola mata Arung berkaca-kaca. Air hangat yang lain meleleh di pipinya.
Hujan membuat bunga-bunga yang tadi ditaburkan Arung membasah dan bercampur dengan tanah. Nisan putih yang tadinya bersih mulai terciprati lumpur. Arung mengusapnya lamat-lamat. Perlahan, dia rebah sampai sisi kanan tubuhnya bersentuhan dengan tanah.
Tiga bulan yang lalu, Karin terbangun dari koma. Arung senang bukan main, seperti ada himpitan yang tahu-tahu melonggar begitu saja. Dia menggenggam lembut jemari gadis itu. Keduanya saling tersenyum dan memandang untuk waktu yang lama.
“Kamu mirip sleeping beauty kalau lagi tidur lama,” Arung tertawa kecil.
Seleret air mata merembes menjatuhi bantal alas kepala Karin. Gadis itu menghela nafas seolah bersiap untuk kalimat panjang, “Kalau kamu kehilangan aku ... rasanya gimana?”
Arung tercekat. Dadanya terhimpit tanpa bisa mengatakan apa-apa.
“Aku nggak tahu,” katanya kemudian. “Aku nggak bisa membayangkan bagaimana rasanya.” Nafas Arung tersengal.
Karin hanya tersenyum, nafasnya terhembus begitu pelan. Tangan Arung bergerak perlahan mengusap dahi dan anak-anak rambutnya. Pada gulir detik yang sama, dia merasa ruangan kamar rumah sakit berangsur menjadi dingin. Hening. Hati Arung mencelos ketika menatap lekat mata karin. Kedua kristal itu berkedip lemah. Kemudian ketika Karin terpejam lebih lama daripada seharusnya, sekujur tubuh Arung melemas. Air mata merebak di kedua pipinya.
Kadang, Arung berharap bisa sekali lagi bertemu Karin entah di tempat bernama apa. Sekadar untuk menggenggam lagi telapak tangannya, atau untuk menatap lekat bola matanya. Kemudian, jika Karin kembali bertanya; Kalau kamu kehilangan aku, rasanya gimana? Arung sudah tahu bagaimana menjawabnya. ***
Jember, Oktober 2012



Ada kesalahan di dalam gadget ini